Biar Aman! Berikut Tips Singkat Berinvestasi di P2P Lending

Tiap tahun pasti kita sering mendengar yang namanya kasus penipuan berkedok investasi, entah itu berasal dari perorangan maupun perusahaan. Cara mereka pun beragam, mulai dari investasi yang dibungkus dengan agama, kesehatan, sampai dengan koperasi abal-abal yang melakukan penipuan skema ponzi. Kerugian yang diderita si korban tidak dapat disebut kecil juga, ada yang ruginya mulai dari jutaan sampai miliaran rupiah.

Memang kan susah juga ya kalau si manusia-nya memang sudah kepingin punya tujuan untuk menipu seseorang, maka segala cara dihalalkan demi mendapatkan keuntungan yang instan. Kamu sendiri pernah punya pengalaman pribadi tertipu juga ketika berinvestasi? Duh, mudah-mudahan saja tidak ya. Tapi meski di antara kamu pernah ada yang tertipu, mari jadikan pengalaman kamu waktu itu sebagai pengingat dan pembelajaran ya.

Nah, di jaman yang serba instan dengan semakin mudahnya penggunaan smartphone dan laptop, setiap orang pasti dengan mudah akan mampu mencari apa yang mereka inginkan, entah itu berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, pekerjaan, rumah, mobil, dan juga yang berkaitan dengan investasi. Sangat mudah dan simpel.

Salah satu jenis investasi yang sedang populer dan digemari masyarakat saat ini yaitu investasi melalui platform peer to peer lending (P2P). Meski saat ini diperkirakan ada sekitar 200 perusahaan penyedia layanan P2P lending yang beroperasi, namun yang telah terdaftar di OJK hanya 99 saja. Jadi sisanya bisa dibilang gak resmi ya.

Nah, buat kamu yang tertarik melakukan investasi online seperti misalnya di platform P2P lending, ada tips singkat nih supaya kamu tidak terjebak penipuan berkedok investasi online. Apa aja? Yuk, disimak.

  • Perusahaan tersebut memiliki website

Di jaman yang serba canggih saat ini, sangat aneh jika perusahaan tersebut tidak memiliki website yang memuat profil perusahaan tersebut, karena di website kita dapat dengan mudah mengetahui alamat perusahaan tersebut di mana, beserta kontak email resmi dan nomor telepon perusahaan tersebut. jika hal sesimpel ini saja tidak ada, maka kamu sebaiknya langsung coret dari daftar.

  • Kenali perusahaan tempat kamu berinvestasi

Ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, nah kalimat ini betul adanya. Sebelum kamu mulai berinvestasi tidak ada salahnya kamu mulai browsing cek-cek sejak kapan perusahaan tersebut berdiri, di mana lokasi-nya, dan siapa-siapa saja yang ada di belakang perusahaan tersebut. Berkaca dari alasan pertama di atas, kamu bisa menemukan apa saja yang kamu butuhkan melalui website perusahaan tersebut.

  • Jangan terkecoh dengan iming-iming imbal hasil yang tinggi

Dasar dari sebuah investasi ialah bagaimana uang bekerja untuk kita dan dapat mengalahkan biaya inflasi di suatu negara dalam setahun; itu saja dulu. Kemudian setelah kita mengetahui berapa nilai inflasi di negara kita, misal 5%/tahun, maka kita bisa mulai bandingkan imbal hasil yang sejenis dengan nilai tertinggi.

Jika kita bisa dapatkan nilai imbal hasil yang setidaknya lebih besar dari bunga deposito saja, artinya investasi kita sudah untung, karena bunga deposito pasti di atas inflasi dan jika nilai investasi kita di atas bunga deposito yang ditawarkan oleh perbankan itu artinya kita sudah pasti untung dalam melakukan investasi.

Satu hal yang patut diperhatikan dalam investasi adalah, jika kamu mengharapkan imbal hasil yang tinggi, maka kamu juga harus menerima risiko investasi tersebut tinggi pula. Kalau ada yang menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko rendah sebaiknya kamu patut curiga.

  • Pergunakan uang yang benar-benar sudah kamu alokasikan untuk investasi

Sebenarnya kaidah ini bukan hanya diterapkan jika kamu ingin berinvestasi di P2P lending saja, tapi juga jika kamu ingin melakukan investasi apapun. Jika kamu sudah memiliki penghasilan tetap dalam sebulan, maka kamu bisa mulai mengatur berapa besar uang yang bisa kamu sisihkan untuk investasi.

Untuk kaum milenial atau pegawai yang sudah cukup mapan, setidaknya kamu bisa sisihkan 10%-15% dari penghasilan tetap kamu untuk investasi. Gunakan rasio ini untuk kamu investasikan, yang tentunya kamu hitung setelah dikurangi pengeluaran tetap per bulan yang harus kamu keluarkan.

  • Buka situs OJK, dan lihat apakah perusahaan P2P lending tersebut sudah berstatus terdaftar

Ini tips terakhir. Kamu tinggal buka situs OJK dan kamu bisa menemukan apakah perusahaan P2P lending yang kamu incar sudah memiliki status terdaftar atau belum. Jika kamu tidak menemukan perusahaan P2P lending incaranmu di daftar perusahaan P2P lending yang sudah terdaftar di OJK, maka saran saya kamu bisa pilih platform P2P lending yang sudah terdaftar. Platform yang sudah terdaftar di OJK berarti telah tunduk pada segala peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga regulator, sehingga tentunya lebih aman bagi investasi kamu di kemudian hari.

OJK Melindungi Konsumen

Dengan tegas di dalam POJK 77 tahun 2016 telah diatur mengenai layanan pinjam meminjam berbasis fintech. Di dalam pasal 43 OJK pun merilis peraturan mengenai kegiatan usaha, yang menyebutkan bahwa penyelenggara dilarang:

  1. Melakukan kegiatan usaha selain kegiatan usaha penyelenggara yang diatur dalam peraturan OJK;

  2. Bertindak sebagai pemberi pinjaman atau penerima pinjaman;

  3. Memberikan pinjaman dalam segala bentuknya atas pemenuhan kewajiban pihak lain;

  4. Menerbitkan surat utang;

  5. Memberikan rekomendasi kepada pengguna;

  6. Mempublikasikan informasi yang fiktif dan/atau menyesatkan;

  7. Melakukan penawaran layanan kepada pengguna dan/atau masyarakat melalui sarana komunikasi pribadi tanpa persetujuan pengguna; dan

  8. Mengenakan biaya apapun kepada pengguna atas pengajuan pengaduan.

Berdasarkan informasi dari OJK, pada bulan September 2018 lalu, Satgas Waspada Investasi telah berhasil menemukan sekitar 182 entitas yang melakukan kegiatan usaha P2P lending namun tidak terdaftar atau tidak memiliki izin usaha dari OJK. Maka dari itu sangat penting peran kewaspadaan kita untuk tetap berhati-hati agar bisa terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan.

Investasi Aman dan Kepercayaan Masyarakat Meningkat

Industri fintech di sektor P2P lending merupakan bisnis yang cukup menjanjikan karena tiap tahunnya penetrasi pengguna internet akan selalu meningkat dari saat ini (2018) sekitar 143.2 juta pengguna internet, Sebanyak 72.4% pengguna internet berada di perkotaan, dan dari 143.2 juta pengguna, sekitar 70% menggunakan smartphone, sedangkan sisanya mengakses internet dari desktop.

Nilai transaksi sendiri diprediksi akan meningkat sekitar 17% per tahunnya. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tumbuh di atas 5% dan pengguna aktif media sosial akan mencapai 170 juta di tahun 2022 maka tentu akan sangat penting pengawasan dan penindakan untuk platform P2P lending yang ternyata tidak terdaftar di OJK. Dengan begitu, masyarakat akan lebih tenang dan nyaman dalam melakukan investasi di P2P lending.

Tujuan utama dari penindakan hal tersebut tentu agar pelaku-pelaku investasi bodong tidak merusak citra platform P2P lending di mata masyarakat.

Nah, di atas adalah beberapa tips singkat yang bisa kamu jadikan referensi agar terhindar dari investasi online yang fiktif. Selama kamu melakukan screening dan teliti serta disiplin maka kecil kemungkinan kamu akan terjerumus dalam kesalahan memilih platform investasi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *